Tuesday, 22 January 2013



API…
Ya, A-P-I begitulah kau menamai dirimu. Kau bilang, kau ingin seperti Api sebab kau ingin berbeda dengan yang lain, kau juga ingin seperti api yang menyala; yang setiap waktu dapat menyemangati orang lain –tidak hanya kau sendiri yang memiliki semangat tersebut. Mungkin itu filosofi yang saya ingat darimu. “Nice philosophy.” Batin saya kala itu.

Diluar filosofi yang keren itu. Saya sedikit kesal dengan sikapmu, Api. Hmmm… kau mungkin tahu tindakan apa yang membuat saya kesal?

Baiklah… akan saya beritahu. Namun bisakah kau jawab beberapa pertanyaan saya berikut? 
1.  Kau tahu, kesehatan akan di bayar mahal ketika kesakitan datang?
2. Kau tahu, mencegah lebih baik daripada mengobati?
Cukup, hanya itu saja pertanyaan dari saya.

Api, kau sering mengeluh tentang kepalamu yang sakit menyiksa itu. Mungkin itu karena Darah Rendahmu kambuh. Jujur, saya kecewa! Bukan, bukan karena kau sering mengeluh sakit, tapi kecewa karena selalu mengabaikan rasa sakit itu. Seharusnya kau tahu, sekecil apapun penyakit bila dibiarkan maka akan berbahaya nantinya. Ya, walaupun saya tidak terlalu paham dengan Darah Rendah, tapi saya mengerti bahwa setiap penyakit akan berujung pada kata ‘berbahaya’. Setidaknya sakit kepala yang sering menderamu adalah pengingat bahwa kau tak boleh menyepelekannya.

Monday, 19 November 2012

Dream Room
Oleh : Angger Minerva
Story edisi 25 Sept-24 Okt 2012






Dia mengamatiku, berharap agar aku menemaninya duduk di sofa ruangan ini. Aku tak mempedulikannya, kuterus berkutat dengan benda-benda rakitanku. Kali ini sekolah sedang libur semester, sudah saatnya semua waktu dan pikiranku kucurahkan pada benda seperti lemari yang dilapisi alumunium ini. Di ruang inilah kuhabiskan waktu untuk bergulat dengan benda-benda asing ini.
Dream Room, sebuah ruangan kecil yang terletak di halaman belakang dan terpisah dari bangunan utama rumahku. Aku sengaja meminta orang tuaku membuat ruangan ini. Ya, di sinilah aku menggantungkan cita-cita dan segala impianku. Cita-cita yang aneh bagi sebagian kalangan, tapi tidak untuk keluargaku. Aku memang telah mendapat ilmu turun-temurun dari almarhum kakek. Tak hanya itu, kakek juga menularkan cita-cita dan impiannya padaku. Sebagian benda ciptaan-ciptaan kakek telah kami rasakan manfaatnya terutama untuk keluargaku.
Semula ruangan ini menyatu dengan kamarku, namun orang tuaku merasa terganggu atas aktifitasku yang cenderung pada malam hari dan selalu mengabaikan tugas sekolahku. Hingga mereka menghalangiku untuk bergelut dengan benda-benda ajaib. Cita-citaku banyak tapi yang menjadi tujuan utamaku adalah mengubah dunia dan memperbaiki dunia dengan alat-alat ciptaanku.
“Nara, kumohon dengarkan aku sebentar saja!” Alana mengeluh kesal.
Kulirik ia sejenak. Dia adalah sahabatku, kita bertemu saat acara Mabis (Masa Bimbingan Siswa) tahun lalu di sekolah. Meski kami baru kenal sekitar sepuluh bulan lalu tapi kami sangat dekat seakan kami telah saling mengenal bertahun-tahun lamanya.
Dia, salah satu gadis cantik di sekolah. Tubuhnya begitu ideal dengan usianya. Kadang aku merasa minder bila harus berteman dengannya. Siapalah aku ini? Pria kurus, tinggi dan berkacamata tebal. Tidakkah ia malu bila bersahabat denganku? Aku adalah sosok lelaki penakut sedangkan dirinya sosok wanita yang tegar, diusianya yang masih belia ia telah menjadi yatim piatu. Dan kini ia tinggal bersama Bibinya, di Surabaya. Dan rumah kami saling bersebrangan.
“Nara, kau masih menganggapku ada kan?” ia mendekatiku.

Saturday, 18 August 2012

Kau ingat beberapa kenangan kebersamaan kita? Baiklah, aku akan menceritakannya padamu dan khusus untukmu. 

 15 Tahun yang lalu… 

Aku bergegas melangkah keluar kelas setelah bel sekolah berbunyi. Kuterobos murid-murid yang menyesaki koridor kelas. Aku tak ingin kau menunggu terlalu lama. Aku yakin kau pasti telah menungguku. Dan dugaanku tak meleset. Aku melihatmu sedang berdiri di pintu gerbang sekolah dengan ditemani sebuah sepeda ontel –sepeda pemberian Abah saat kau di Khitan. Sesekali kau usap keringat yang membasahi keningmu –siang ini mentari terasa begitu menyengat. 

 Aku berjalan mengendap-endap mendekatimu. Lantas kukagetkan dirimu dari belakang. Spontan kau terkejut dan aku tertawa penuh kemenangan karena berhasil menjahilimu. Kini aku sadar, bahwa saat itu kau pasti hanya berpura-pura terkejut agar aku bisa tertawa lepas. Bukankah setiap hari aku selalu melakukan hal sama?

“Jahil ya, kamu. Hampir saja jantung Mas mau copot.” Kau menasehatiku sambil mengusap dada.

Aku hanya memamerkan barisan gigi putihku. 

Dan ternyata, dihari berikutnya aku tetap melakukan hal sama.

Aku merindukanmu, Mas. 

Tuesday, 17 July 2012



Dapet inbox yang isinya seperti ini :
Hai Angger
Cerpen Primadona Malam, bakal dimuat di Radar Banten edisi Minggu 15 Juli ini ya.
Tengkyu.
Kalo gak nyadar pas saat itu udah jam 11 malam, mungkin gue bakal teriak dan jingkrak-jingkrak
:D


mau tau cerpen PRIMADONA MALAM itu seperti apa kisahnya?
Yukkk mareeeee di baca.......



Primadona Malam
By. Angger Minerva

Aku duduk terpaku di depan meja rias. Mencermati raut wajah yang kian hari kian jelas tergurat keriput. Kupoles wajah dengan bedak padat coklat, berharap polesan bedak tersebut dapat menutupi keriput wajah. Atau sekadar mengurangi keriput yang terlihat.
Kurapikan gaun merah yang kukenakan. Berharap penampilanku masih seperti saat usia remaja. Juga berharap, aku masih semenarik dulu. Dulu saat aku menjadi primadona dan sekarang aku ingin tetap menjadi primadona.
Primadona bagi lelaki hidung belang. Lelaki yang mencari pelampiasan nafsu birahinya. Lelaki yang tak pernah merasa terbebani mengeluarkan harta bendanya untukku. Lelaki yang terlupa akan istri dan anaknya yang setia menantinya di rumah.
Aku terbangun dari dudukku. Sesaat kurapikan make-up wajah dan kurapikan lagi gaunku. Lantas, aku siap berpergian. Tak perlu mengumpat untuk keluar dari gubuk reot ini. Aku hanya tinggal seorang diri, di pinggiran kota metropolitan.
Kujejaki tanah basah. Langkahku terasa amat perlahan, berusaha memilih jalan bagus agar tak terjebak oleh genangan air yang dibuat sang hujan beberapa jam yang lalu. Aku harus ekstra hati-hati karena tak ingin gaun ini terkotori dengan air kotor jalanan. Bau got hitam begitu menusuk indra penciumanku. Ditambah, di sekitar tempat tinggalku terdapat pembuangan sampah.
Tak perlu takut bagiku jika akan ada tetangga yang menanyaiku. Pastilah di malam seperti ini mereka sudah tertidur pulas, dan kuyakin hujan beberapa jam lalu telah membuat mereka semakin larut dalam lautan mimpi.
Tak perlu waktu lama, aku telah sampai di lokasi yang kutuju. Sudah banyak rekanku yang bekerja dan tentu sudah banyak pula lelaki hidung belang hilir mudik.
“Marsha, kemana aja kamu? Sudah ada yang menunggumu.” ujar Mak Ningsih menyambutku di depan pintu. Ya, dialah penguasa di sini bahkan dia jugalah yang memberi nama Marsha sebagai nama samaranku.
“Maaf Mak,” jawabku santai.
Huh.. baru sampai saja sudah ada lelaki yang tertarik padaku, lelaki yang nafsunya minta dilayani. Dan memang inilah pekerjaanku. Meski awalnya aku teramat jijik dengan pekerjaan ini, tapi lambat laun rasa jijik itu sirna.
Inilah duniaku. Sebuah dunia kelam yang tak terbesit dalam benakku sebelumnya. Dunia yang tak pernah kuyakini dan tak pernah tercium olehku sebelumnya. Namun kini aku ada di sini. Ditempat para pelacur menjajakan kemolekan tubuhnya demi selembar rupiah untuk menyambung hidup. Bukan salah kami memilih pekerjaan seperti ini. Justru kami begitu menyadari atas ketidak-mampuan kami, atas keahlian apapun yang tak kami miliki, atas ijasah apapun yang tak tersentuh oleh kami, dan atas pendidikan yang tak pernah kami enyam sekalipun. Dan inilah kami. Inilah aku dan duniaku; sang primadona malam.
Jangan salahkan kami jika para suami lebih memilih bermalam bersama kami! Jangan salahkan kami jika kami menguras harta benda mereka!
Kami memang menjijikkan, bahkan lebih menjijikkan daripada tikus-tikus got yang berkeliaran dimalam hari. Juga lebih menjijikkan daripada sampah yang membusuk. Ketahuilah, kami lebih baik dibanding orang berjas dan duduk santai di singgasananya dan hanya makan gaji buta.
Sesungguhnya aku pun tak suka dengan keadaanku seperti ini. Tapi karena Cantika –adikku, maka

Monday, 14 May 2012


Sekantor! Seruang! Sekampus! Sejurusan! Sekelas!
Kami selalu serba 'se-'. Dan herannya gue sama dia walau udah seharian rusuh di kantor, tetep aje rusuh di fb. Kalo lagi onlen kebetulan bareng, tetep aje rusuh di inbox. Et dah... apa gak bosen ya rusuh mulu ama gue?! Enek! kata yang tepat! #upss...

Tanang....! semua akan baik-baik aja kok soalnya udah kebal! Hahahaha....
Dan 'Dia' yang gue maksud kali ini adalah sosok yang mungkin sudah bisa ditebak 'Tiandii Langit Ara'. Yups... gue mau cerita dikittt.... dikit banget malah mengenai gimana kami ketemu....


Simple banget!
Waktu itu gue sama temen SMA gue dateng pas acara FBB (Festival Baris Berbaris) Sekabupaten Tangerang di Pemda Tigaraksa bulan Desember 2010. Secara sebagai Sekot yang baik pan mesti dateng ngeliat para junior pada tampil ikut lomba Paskibra.

Narsis itu adalah moto wajib gue sama temen-temen SMA gue. Yang bikin aneh nih ya... Pas gue lagi asyik foto-foto sama temen-temen SMA plus pelatih pake hape gue, masak ada cewek berjaket hijau yang nyelonong maen ngikut foto tanpa permisi pula! Spontan, gue sama temen-temen gue bertanya-tanya tentang siapa orang itu...

Cerita berlanjut ke....
Di kantor gue ada karyawan baru. Seperti biasa, setiap istirahat pasti pada ngumpul, dan cerita ngalor-ngidul! sampai pada obrolan mengenai facebook....
"Oh... fb lo Angger Pelangidimalamhari itu?" tanya karyawan baru itu. Jiah... ketauan deh kalo dulu gue sempet alay... hahahahaha....
"Iya... lo tau?" gue balik tanya.
"Pan kita satu grup Paskibra di fb!"
"Masak sih?"

Seolah gak percaya, pulang kerja gue langsung nongkrong di warnet (pas itu gue belum punya leppi cuy, masih kere). Mulai deh gue cari nama karyawan baru itu di Grup Paskibra. Setelah nemu langsung deh gue maen ke profilnya...
Nah... pas itu gue ngeliat foto-foto dia, dan ada yang aneh dari foto itu. Jaket hijau yang dia pake bikin Deja Vu.


Besoknya....

Tuesday, 20 March 2012

Hitam Putih Susi

Judul               :   DUA SISI SUSI
Penulis            :   Donatus A. Nugroho dkk.
Penyunting      :   Reni Erina dkk.
Penerbit          :   Universal Nikko, Jakarta
No. ISBN       :   978-602-95476-6-5


DUA SISI SUSI menceritakan tokoh Susi yang miliki sisi putih dan hitam.

Hanya Susi pada cerpen Di Atas Piring Putih yang diundang Adrian dalam pesta kecil-kecilan yang diadakannya bila ia putus dengan kekasihnya. Tak pernah sekalipun Susi melewatkan pesta itu, dimana Adrian-lah si juru masak.

Adrian miliki kelainan. Semua mantan kekasihnya selalu ia bunuh. Daging mereka akan dijadikan bahan utama sushi; makanan yang selalu mereka santap di atas piring putih. Hingga nyawa Susi harus berakhir ditangan Adrian.
  parang yang menempel horizontal di samping Susi bergerak 180 derajat. Mengenai Susi. Tepat dilehernya. Adrian suka suara itu. suara ketika kepala Susi menggelinding di lantai bersama cipratan darah… (Hal:68-69)

Susi di Lebah Hitam dari Fukushima adalah korban efek radiasi ledakan reaktor nuklir. Berwujud manusia namun selera makanannya berbeda. Bukan nasi yang dimakan tapi bubur otak. Tak pernah ia memilih siapa mangsanya, orang tuanyapun tak luput jadi korban.

Susi menghisap otak korbannya dengan sedotan, sebelumnya ia melubangi ubun-ubun korbannnya dengan paku. Tak ada yang lain selain bubur otak manusia dengan cairan darah dan lendir. 

…aku hanya berharap kalian bisa jeli mengenali perbedaan mataku dengan mata manusia normal. Pupil mata kiriku tidak bulat, melainkan berbentuk heksagonal. (Hal:274)

DUA SISI SUSI ditulis oleh 24 penulis yang terpilih melalui seleksi ketat. Dimana mereka tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Sebagian berprofesi sebagai penulis, mahasiswa dan pelajar. 34 penulis yang naskahnya tak lolos seleksi namun miliki kisah aneh selama pembuatan naskah terangkum dibeberapa halaman terakhir; menambah poin plus buku ini.

Harga yang dipatok buku ini mungkin menjadi pertimbangan pembaca yang notabene seorang pelajar. Dimana pelajar hanya mengandalkan uang dari orang tuanya, tentulah perlu tenaga ekstra untuk menyisihkan uang saku. Saya juga menemukan terdapat beberapa kesalahan atau kekurangan dalam hal pengetikan. Saya harap beberapa kelemahan tersebut tak menyurutkan niat Anda untuk miliki buku ini.
Buku ini sangat cocok bagi anda yang miliki jiwa pemberani. Jangan mengaku diri Anda pemberani kalau belum membacanya. Buku ini adalah buku paling mematikan!
Saya aja berani, masak kamu enggak?
Senandung Sahabat
senandung Sahabat

Telah terbit di LeutikaPrio!!!



Judul : Senandung Sahabat
Penulis : Ali Musafa, Angger Minerva dkk.
Tebal : vi + 116 hlm
Harga : Rp. 31.200,-
ISBN : 978-602-225-204-7
 

Sinopsis:
Senandung Sahabat ini bercerita tentang ungkapan hati para sahabat dalam kehidupan cinta dan persahabatan mereka. Ditulis oleh para sahabat dari berbagai penjuru Nusantara. Berkisah tentang Bisikan Iblis, Kisah Kita Tentang Hujan, Janji 3 Januari, Kehilangan, Mad in Love, Kakak Mayaku, Persaudaraan yang Indah, Azzam dan Maryam, Mily Diaries, My Lyci, Menjadi Dewasa, Maaf yang Tertunda, Romansa Si Dungu, Ironi, Apa Itu Cinta, dan Wanita yang Berbeda. Senandung Sahabat ini adalah sebuah pertanda bahwa bibit-bibit muda ikut menyemarakkan dunia perbukuan di Indonesia.



Hujan dan malam–dia suka itu, meski sesungguhnya dia membencinya.

Berikut ini daftar lengkap buku #iCare:
BUKU 6

Mawar dan Rinduku |Lilya Wamirza Fitriani, @lymirza
Bumi Untuk Ragil |Laurens E. Prasetyo, @lorenz_ep
Hidup Untuk Uang? |Deniya Patricia, @deniyatarot
Jiwa yang Merindu |Rissa, @RirisaLuv
About Children |Randy Mulyanto, @RANDOMDY
Perubahan Anak Muda Menentukan Perubahan di Bangsa Ini |Lucy Susanti, Lucy_1188
Untukmu, Sahabatku |Vivin Retno Damayanthi, @VivinMDzen
Bumi dan Arsitek Kecil |Lianggono Susanto, @lianggono
Pedulikah Kita? |@DianElysa
Sepuluh Jari yang Peduli |Mutiara Larasati Permono, @aiyasmutiara
Karena Pemimpin Tak Boleh Hanya “Prihatin” |Irra Fachriyanthi, @irfach
Ini Milik Kita |Toshiko
Jakarta, Sebuah Balon dan 3 Lembar Uang Seribuan |Shinta Okta, @m3_rU
Kebudayaan yang Terlupakan |Meyriandini Suci Lestari, @ucienil
Sebuah Etalase di Trotoar |Yuni Sugandini, @dcosynook
Terang Bulan di Tanah Luka |Gunawan Budi Susilo, @namanaira
Si Penjaga Mushola |Angger Styo Yuniarti, @angger_minerva
When My Brother Stopped Running |Monica Petra Karunia, monicapetra@ymail.com
Ciela |Yennie Arisandi
Everything Happens for A Reason |arfienna.g.nurhadi, @fienna_nurhadi
Sungai |Dewi Kartika Subekti, @mornin9dew
Saya Hanya Ingin Meninggal di Kampung Halaman... |Ruri Hanonsari, @rurihanonsari


Yang masuk dalam 10 Besar pilihan kami adalah...

1. Rumah Untuk Nadya oleh Eros Rosita
2. Normal adalah Aku oleh Rina Shu
3. Segulung Cerita Tua dalam Kepala oleh Haz Algebra
4. Pagoda Sam Poo Kong oleh Daniel Hermawan
5. Magdalena, Ilusi dari Balik Lensa oleh Yuska Vonita
6. Bumi dan Arsitek Kecil oleh Lianggono
7. Karena Pemimpin Tak Boleh Hanya Prihatin oleh Irra Fachriyantini
8. Jakarta, Sebuah Balon dan 3 Lembar Uang Seribuan oleh Shinta Okta
9. Si Penjaga Musholla oleh Angger Minerva
10. Saya Hanya Ingin Meninggal di Kampung Halaman oleh Ruri Hanonsari


DIALOG SEPASANG KUPU-KUPU # Karya Duet
KARYA: Angger Minerva & Tiandii Langit Ara, Dewi Hapsari, Eric Keroncong, Nurlaili Sembiring, Atieq ilham, Aa_Kaslan, Pena Pelangi, Aghmed ghozen, dkk


Endorsment:
Kupu-kupu. Bukan hanya sekedar sayapnya yang memiliki keindahan warna. Bukan hanya bentuknya yang lucu, dan memberikan kerinduan tersendiri bagi pecintanya. Kupu-kupu bukan hanya sekedar terbang lalu hinggap di atas putik bunga, namun ia juga bertugas untuk menabur serbuk sari bunga pada bunga-bunga lainnya. Seperti kumpulan kisah dalam cerpen ini, para penulisnya, menghinggapkan ujung penanya, dengan menaburkan sekian sari tintanya, untuk menyampaikan kaidah cinta dan hikmah kehidupan. Kisah-kisah yang menakjubkan, dan kemasan isinya yang tertulis dengan jujur, membuat bibir pembacanya tidak akan kesulitan untuk menebar senyumnya, bahkan untuk menyeka air mata keharuannya. Dan sejenak akan membuat pembacanya melamun terbang bersama “kupu-kupu”.

(Jhody M. Adrowi, Pecinta dan penikmat sastra, alumni Pon-Pes al-In’am, Banjar Timur. Study di Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Jurusan BSA.)

Book of Cheat #3


By Yuska Vonita, Pelangi Jingga (Angger minerva) dkk
Harga: Rp 33000



Cinta itu indah. Cinta itu membuat dunia terasa seperti surga. Tetapi, bagaimana jika kesucian hati dinodai dengan adanya orang ketiga? Apakau kau rela memberi hatimu kepadanya yang tidak setia?

Book of Cheat adalah kumpulan cerpen tentang pengkhianatan cinta. Berbagai kisah tentang perselingkuhan ditulis dengan menarik oleh 17 penulis ini. Take a deep breath and let's start the journey.


About Me

Hai Teman...

Blog ini dikembangkan oleh Angger Minerva. Seorang yang hobi menulis, namun beberapa tahun terakhir sudah tidak aktif lagi menulis. Dan kini, ingin kembali menulis terutama di blog ini.

Berencana mengembangkan blog ini untuk berbagi hal-hal yang diketahuinya, hal-hal yang ada dipikirannya, juga hal-hal seputar ilmu komputer. Btw, saat ini dia sedang melanjutkan studi di Magister Ilmu Komputer di Universitas Swasta di Jakarta. Jika teman-teman menemukan kekeliruan, jangan sungkan untuk mengoreksinya.

Akhir kalimat, salam kenal, salam bahagia, salam ceria.

-A.M.-

Popular Posts

Blog Archive