Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Monday, 19 November 2012

Dream Room
Oleh : Angger Minerva
Story edisi 25 Sept-24 Okt 2012






Dia mengamatiku, berharap agar aku menemaninya duduk di sofa ruangan ini. Aku tak mempedulikannya, kuterus berkutat dengan benda-benda rakitanku. Kali ini sekolah sedang libur semester, sudah saatnya semua waktu dan pikiranku kucurahkan pada benda seperti lemari yang dilapisi alumunium ini. Di ruang inilah kuhabiskan waktu untuk bergulat dengan benda-benda asing ini.
Dream Room, sebuah ruangan kecil yang terletak di halaman belakang dan terpisah dari bangunan utama rumahku. Aku sengaja meminta orang tuaku membuat ruangan ini. Ya, di sinilah aku menggantungkan cita-cita dan segala impianku. Cita-cita yang aneh bagi sebagian kalangan, tapi tidak untuk keluargaku. Aku memang telah mendapat ilmu turun-temurun dari almarhum kakek. Tak hanya itu, kakek juga menularkan cita-cita dan impiannya padaku. Sebagian benda ciptaan-ciptaan kakek telah kami rasakan manfaatnya terutama untuk keluargaku.
Semula ruangan ini menyatu dengan kamarku, namun orang tuaku merasa terganggu atas aktifitasku yang cenderung pada malam hari dan selalu mengabaikan tugas sekolahku. Hingga mereka menghalangiku untuk bergelut dengan benda-benda ajaib. Cita-citaku banyak tapi yang menjadi tujuan utamaku adalah mengubah dunia dan memperbaiki dunia dengan alat-alat ciptaanku.
“Nara, kumohon dengarkan aku sebentar saja!” Alana mengeluh kesal.
Kulirik ia sejenak. Dia adalah sahabatku, kita bertemu saat acara Mabis (Masa Bimbingan Siswa) tahun lalu di sekolah. Meski kami baru kenal sekitar sepuluh bulan lalu tapi kami sangat dekat seakan kami telah saling mengenal bertahun-tahun lamanya.
Dia, salah satu gadis cantik di sekolah. Tubuhnya begitu ideal dengan usianya. Kadang aku merasa minder bila harus berteman dengannya. Siapalah aku ini? Pria kurus, tinggi dan berkacamata tebal. Tidakkah ia malu bila bersahabat denganku? Aku adalah sosok lelaki penakut sedangkan dirinya sosok wanita yang tegar, diusianya yang masih belia ia telah menjadi yatim piatu. Dan kini ia tinggal bersama Bibinya, di Surabaya. Dan rumah kami saling bersebrangan.
“Nara, kau masih menganggapku ada kan?” ia mendekatiku.

Saturday, 18 August 2012

Kau ingat beberapa kenangan kebersamaan kita? Baiklah, aku akan menceritakannya padamu dan khusus untukmu. 

 15 Tahun yang lalu… 

Aku bergegas melangkah keluar kelas setelah bel sekolah berbunyi. Kuterobos murid-murid yang menyesaki koridor kelas. Aku tak ingin kau menunggu terlalu lama. Aku yakin kau pasti telah menungguku. Dan dugaanku tak meleset. Aku melihatmu sedang berdiri di pintu gerbang sekolah dengan ditemani sebuah sepeda ontel –sepeda pemberian Abah saat kau di Khitan. Sesekali kau usap keringat yang membasahi keningmu –siang ini mentari terasa begitu menyengat. 

 Aku berjalan mengendap-endap mendekatimu. Lantas kukagetkan dirimu dari belakang. Spontan kau terkejut dan aku tertawa penuh kemenangan karena berhasil menjahilimu. Kini aku sadar, bahwa saat itu kau pasti hanya berpura-pura terkejut agar aku bisa tertawa lepas. Bukankah setiap hari aku selalu melakukan hal sama?

“Jahil ya, kamu. Hampir saja jantung Mas mau copot.” Kau menasehatiku sambil mengusap dada.

Aku hanya memamerkan barisan gigi putihku. 

Dan ternyata, dihari berikutnya aku tetap melakukan hal sama.

Aku merindukanmu, Mas. 

Tuesday, 17 July 2012



Dapet inbox yang isinya seperti ini :
Hai Angger
Cerpen Primadona Malam, bakal dimuat di Radar Banten edisi Minggu 15 Juli ini ya.
Tengkyu.
Kalo gak nyadar pas saat itu udah jam 11 malam, mungkin gue bakal teriak dan jingkrak-jingkrak
:D


mau tau cerpen PRIMADONA MALAM itu seperti apa kisahnya?
Yukkk mareeeee di baca.......



Primadona Malam
By. Angger Minerva

Aku duduk terpaku di depan meja rias. Mencermati raut wajah yang kian hari kian jelas tergurat keriput. Kupoles wajah dengan bedak padat coklat, berharap polesan bedak tersebut dapat menutupi keriput wajah. Atau sekadar mengurangi keriput yang terlihat.
Kurapikan gaun merah yang kukenakan. Berharap penampilanku masih seperti saat usia remaja. Juga berharap, aku masih semenarik dulu. Dulu saat aku menjadi primadona dan sekarang aku ingin tetap menjadi primadona.
Primadona bagi lelaki hidung belang. Lelaki yang mencari pelampiasan nafsu birahinya. Lelaki yang tak pernah merasa terbebani mengeluarkan harta bendanya untukku. Lelaki yang terlupa akan istri dan anaknya yang setia menantinya di rumah.
Aku terbangun dari dudukku. Sesaat kurapikan make-up wajah dan kurapikan lagi gaunku. Lantas, aku siap berpergian. Tak perlu mengumpat untuk keluar dari gubuk reot ini. Aku hanya tinggal seorang diri, di pinggiran kota metropolitan.
Kujejaki tanah basah. Langkahku terasa amat perlahan, berusaha memilih jalan bagus agar tak terjebak oleh genangan air yang dibuat sang hujan beberapa jam yang lalu. Aku harus ekstra hati-hati karena tak ingin gaun ini terkotori dengan air kotor jalanan. Bau got hitam begitu menusuk indra penciumanku. Ditambah, di sekitar tempat tinggalku terdapat pembuangan sampah.
Tak perlu takut bagiku jika akan ada tetangga yang menanyaiku. Pastilah di malam seperti ini mereka sudah tertidur pulas, dan kuyakin hujan beberapa jam lalu telah membuat mereka semakin larut dalam lautan mimpi.
Tak perlu waktu lama, aku telah sampai di lokasi yang kutuju. Sudah banyak rekanku yang bekerja dan tentu sudah banyak pula lelaki hidung belang hilir mudik.
“Marsha, kemana aja kamu? Sudah ada yang menunggumu.” ujar Mak Ningsih menyambutku di depan pintu. Ya, dialah penguasa di sini bahkan dia jugalah yang memberi nama Marsha sebagai nama samaranku.
“Maaf Mak,” jawabku santai.
Huh.. baru sampai saja sudah ada lelaki yang tertarik padaku, lelaki yang nafsunya minta dilayani. Dan memang inilah pekerjaanku. Meski awalnya aku teramat jijik dengan pekerjaan ini, tapi lambat laun rasa jijik itu sirna.
Inilah duniaku. Sebuah dunia kelam yang tak terbesit dalam benakku sebelumnya. Dunia yang tak pernah kuyakini dan tak pernah tercium olehku sebelumnya. Namun kini aku ada di sini. Ditempat para pelacur menjajakan kemolekan tubuhnya demi selembar rupiah untuk menyambung hidup. Bukan salah kami memilih pekerjaan seperti ini. Justru kami begitu menyadari atas ketidak-mampuan kami, atas keahlian apapun yang tak kami miliki, atas ijasah apapun yang tak tersentuh oleh kami, dan atas pendidikan yang tak pernah kami enyam sekalipun. Dan inilah kami. Inilah aku dan duniaku; sang primadona malam.
Jangan salahkan kami jika para suami lebih memilih bermalam bersama kami! Jangan salahkan kami jika kami menguras harta benda mereka!
Kami memang menjijikkan, bahkan lebih menjijikkan daripada tikus-tikus got yang berkeliaran dimalam hari. Juga lebih menjijikkan daripada sampah yang membusuk. Ketahuilah, kami lebih baik dibanding orang berjas dan duduk santai di singgasananya dan hanya makan gaji buta.
Sesungguhnya aku pun tak suka dengan keadaanku seperti ini. Tapi karena Cantika –adikku, maka

Tuesday, 20 March 2012

Senandung Sahabat
senandung Sahabat

Telah terbit di LeutikaPrio!!!



Judul : Senandung Sahabat
Penulis : Ali Musafa, Angger Minerva dkk.
Tebal : vi + 116 hlm
Harga : Rp. 31.200,-
ISBN : 978-602-225-204-7
 

Sinopsis:
Senandung Sahabat ini bercerita tentang ungkapan hati para sahabat dalam kehidupan cinta dan persahabatan mereka. Ditulis oleh para sahabat dari berbagai penjuru Nusantara. Berkisah tentang Bisikan Iblis, Kisah Kita Tentang Hujan, Janji 3 Januari, Kehilangan, Mad in Love, Kakak Mayaku, Persaudaraan yang Indah, Azzam dan Maryam, Mily Diaries, My Lyci, Menjadi Dewasa, Maaf yang Tertunda, Romansa Si Dungu, Ironi, Apa Itu Cinta, dan Wanita yang Berbeda. Senandung Sahabat ini adalah sebuah pertanda bahwa bibit-bibit muda ikut menyemarakkan dunia perbukuan di Indonesia.



Hujan dan malam–dia suka itu, meski sesungguhnya dia membencinya.

Berikut ini daftar lengkap buku #iCare:
BUKU 6

Mawar dan Rinduku |Lilya Wamirza Fitriani, @lymirza
Bumi Untuk Ragil |Laurens E. Prasetyo, @lorenz_ep
Hidup Untuk Uang? |Deniya Patricia, @deniyatarot
Jiwa yang Merindu |Rissa, @RirisaLuv
About Children |Randy Mulyanto, @RANDOMDY
Perubahan Anak Muda Menentukan Perubahan di Bangsa Ini |Lucy Susanti, Lucy_1188
Untukmu, Sahabatku |Vivin Retno Damayanthi, @VivinMDzen
Bumi dan Arsitek Kecil |Lianggono Susanto, @lianggono
Pedulikah Kita? |@DianElysa
Sepuluh Jari yang Peduli |Mutiara Larasati Permono, @aiyasmutiara
Karena Pemimpin Tak Boleh Hanya “Prihatin” |Irra Fachriyanthi, @irfach
Ini Milik Kita |Toshiko
Jakarta, Sebuah Balon dan 3 Lembar Uang Seribuan |Shinta Okta, @m3_rU
Kebudayaan yang Terlupakan |Meyriandini Suci Lestari, @ucienil
Sebuah Etalase di Trotoar |Yuni Sugandini, @dcosynook
Terang Bulan di Tanah Luka |Gunawan Budi Susilo, @namanaira
Si Penjaga Mushola |Angger Styo Yuniarti, @angger_minerva
When My Brother Stopped Running |Monica Petra Karunia, monicapetra@ymail.com
Ciela |Yennie Arisandi
Everything Happens for A Reason |arfienna.g.nurhadi, @fienna_nurhadi
Sungai |Dewi Kartika Subekti, @mornin9dew
Saya Hanya Ingin Meninggal di Kampung Halaman... |Ruri Hanonsari, @rurihanonsari


Yang masuk dalam 10 Besar pilihan kami adalah...

1. Rumah Untuk Nadya oleh Eros Rosita
2. Normal adalah Aku oleh Rina Shu
3. Segulung Cerita Tua dalam Kepala oleh Haz Algebra
4. Pagoda Sam Poo Kong oleh Daniel Hermawan
5. Magdalena, Ilusi dari Balik Lensa oleh Yuska Vonita
6. Bumi dan Arsitek Kecil oleh Lianggono
7. Karena Pemimpin Tak Boleh Hanya Prihatin oleh Irra Fachriyantini
8. Jakarta, Sebuah Balon dan 3 Lembar Uang Seribuan oleh Shinta Okta
9. Si Penjaga Musholla oleh Angger Minerva
10. Saya Hanya Ingin Meninggal di Kampung Halaman oleh Ruri Hanonsari


DIALOG SEPASANG KUPU-KUPU # Karya Duet
KARYA: Angger Minerva & Tiandii Langit Ara, Dewi Hapsari, Eric Keroncong, Nurlaili Sembiring, Atieq ilham, Aa_Kaslan, Pena Pelangi, Aghmed ghozen, dkk


Endorsment:
Kupu-kupu. Bukan hanya sekedar sayapnya yang memiliki keindahan warna. Bukan hanya bentuknya yang lucu, dan memberikan kerinduan tersendiri bagi pecintanya. Kupu-kupu bukan hanya sekedar terbang lalu hinggap di atas putik bunga, namun ia juga bertugas untuk menabur serbuk sari bunga pada bunga-bunga lainnya. Seperti kumpulan kisah dalam cerpen ini, para penulisnya, menghinggapkan ujung penanya, dengan menaburkan sekian sari tintanya, untuk menyampaikan kaidah cinta dan hikmah kehidupan. Kisah-kisah yang menakjubkan, dan kemasan isinya yang tertulis dengan jujur, membuat bibir pembacanya tidak akan kesulitan untuk menebar senyumnya, bahkan untuk menyeka air mata keharuannya. Dan sejenak akan membuat pembacanya melamun terbang bersama “kupu-kupu”.

(Jhody M. Adrowi, Pecinta dan penikmat sastra, alumni Pon-Pes al-In’am, Banjar Timur. Study di Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Jurusan BSA.)

Book of Cheat #3


By Yuska Vonita, Pelangi Jingga (Angger minerva) dkk
Harga: Rp 33000



Cinta itu indah. Cinta itu membuat dunia terasa seperti surga. Tetapi, bagaimana jika kesucian hati dinodai dengan adanya orang ketiga? Apakau kau rela memberi hatimu kepadanya yang tidak setia?

Book of Cheat adalah kumpulan cerpen tentang pengkhianatan cinta. Berbagai kisah tentang perselingkuhan ditulis dengan menarik oleh 17 penulis ini. Take a deep breath and let's start the journey.


Dear Love For Kids #1

Kumpulan Cerita Anak ( DEARLOVE FOR KIDS )#1

ARTI SAHABAT - D. Dudu AR - 4
INDAHNYA MENOLONG SESAMA - Cahaya Amanah - 8
CHIKA SENANG BERSEKOLAH - Tsuraya Widuri - 14
HUKUMAN ANAK NAKAL - Victoria Ivy - 20
KEBAYA SOBEK - Angger Minerva - 26
MICHIKO TAKUT SEKOLAH - Neny Silvana - 31
BAKAT TERPENDAM KIRA - Molzania - 37
KORY, KELANA DAN KAKEK TUA - A Rahman - 43
BUAH YANG MENYESAL - Ulfa Zaini - 49
AYAHKU GATOTKACA - Andhika Wandana - 53
TAMASYA KE SAWAH - ‘Ainun Kurnia - 60
PUTRI MANDALIKA - EL Kinanti - 66
UTIH DAN MER BERSAMA NEGERI AWAN- Fitriani- 74
Judul : KADO UNTUK JEPANG
Tebal : viii + 166
Penulis : Pelangi Jingga, Ahmed Ghoseen Al-Qohtany, Syaque H, dkk
Penerbit : AG Publishing (Juli, 2011)
ISBN : 978-602-9149-24-1
Harga : Rp. 35.000,- (Belum Termasuk Ongkos Kirim)

SINOPSIS :
Hidup adalah perjuangan, keindahan dan kemegahan Jepang pada akhirnya harus tercatat dalam hamparan ketikberdayaan yang menyebabkan penduduknya menderita.
Inilah hidup… meski telah memperoleh predikat "Negara kaya" namun dalam sekejap mata telah menjadi tumpukan luka, tangis, kecewa dan kehilangan yang sangat dalam.
Ya, hidup memang penuh teka-teki, maka sepandai apakah kita bisa menerima kenyataan hidup yang pahit itu? Sekuat apakah kita mampu bertahan hidup setelah dilanda musibah?
Kisah tentang Jepang yang penulis sajikan dalam buku ini menggambarkan rasa belasungkawa terhadap musibah yang melanda Jepang. Tak ada yang dapat menyangka bahwa kokohnya teknologi Jepang yang canggih itu masih juga tak mampu membendung guratan nasib dalam bentuk musibah tsunami. Bahkan Penulis yang dengan ikhlas menyumbangkan 100% royalti penjualan buku ini kepada korban bencana alam di Jepang tak segan ikut terjun kedalam lingkaran kesedihan itu.



Enggak nyangka telah lahir buku pertamaku, meskipun hanya sekedar antologi bersama. Semoga saja, dengan lahirnya buku ini, membuatku semakin bersemangat untuk meraih cita-cita. Naskahku yang terdapat dalam buku ini adalah flash fiction yang aku ikuti dalam event flash fiction tentang perjodohan. beruntung. 2 naskah yang aku ikutkan, salah satunya berhasil lolos dalam 75 besar naskah yang di bukukan.

Bukan maksudku ber-pamer ria, tapi hanya sekedar berbagi semangat. ya, semoga kalian akan tetap terus bersemangat meraih cita-cita :-)

Hidup itu cinta. Cinta itu telah lenyap seiring dengan terusirnya manusia dari firdaus. Untuk menyempurnakan kehidupannya di dunia, manusia harus menciptakan cinta, berdasar pada template Sang Mahacinta, agar hidupnya kembali hidup. Cinta itu menghidupkan hidup manusia.

Sunday, 18 March 2012


Sore tadi Ariel membawakan sesuatu untukku. Sekotak mungil yang dia genggam di tangan kirinya dan dia angsurkan ke telapak tanganku.
“Bukalah saat menjelang tidur nanti,” katanya.
            Aku tak sabar menanti malam. Aku ingin segera membuka kotak mungil berbungkus pink itu.
Kini malam telah menjelang, kantukku mulai menyerang. Aku bersiap membuka kotak itu ketika tiba-tiba ringtone yang aku setel khusus untuk Ariel berbunyi.
“Ya?” sapaku dengan heran.
“Beib, maaf salah ngasih kotak. Jangan dibuka ya. Pliss,”
Omaygot… jadi apa isi kotak ini dan untuk siapa?
Aku terbangun dari tidur siangku. Oh, hanya mimpi. Aku menoleh ke arah handhponeku yang tiba-tiba menjerit. Sebuah panggilan dari Ariel, kekasihku.
“Iya, Beib,” Sapaku.
“Buka pintunya ya, aku di depan rumahmu.”
Sontak aku memutuskan obrolan dan bergegas membukakan pintu untuknya. Dia  tersenyum manis kala kubukakan pintu untuknya.
Di balik pintu kamar, ku dengar percakapan mereka.

"Kita pasangkan saja mereka!" usul Ayah.
"Iya, mereka begitu serasi. Pasti generasi mereka nanti akan cantik dan indah" antusias Ibu.
"Besok kita bahas saat sarapan! Mereka harus segera dikawinkan!"

Apa maksud pembicaraan mereka? Siapa yang mereka jodohkan? Mbak Sekar? Tidak! Dia sudah menikah. Aku? Ya! Sudah pasti aku yang mereka maksud, hanya aku yang berstatus lajang di rumah ini.

Aku memang tak miliki kekasih tapi bukan dengan perjodohan inilah ku dapatkan kekasih. Usiaku masih 25 tahun.

Syukurlah, Ayah dan Ibu tak membahas perjodohan itu kala sarapan. Cukup menenangkanku.

Ku intip mereka kala berada di pekarangan rumah. Ayah membawa tanaman mawar putih, sedang ibu membawa mawar pink.
Kupandangi langit dibalik jendela perpustakaan. Langit masih gelap, hujan pun tak mereda bahkan petir tak mau kalah oleh hujan. Hujan mengingatkan akan hadirnya dirimu dihidupku. Sejak dua tahun lalu kita selalu bersama. Ruangan kelas menjadi saksi bahwa kita saling mencintai.
Sering kita habiskan waktu bersama di sekolah. Bahkan kita sama-sama rela berangkat pagi dan pulang sore hanya untuk kebersamaan. Kantin dan perpustakaan sekolah pun tak luput jadi saksi kebersamaan kita.
Hujan adalah sesuatu kejadian yang selalu kita harapkan setiap hari. Kita selalu menyalahkan hujan saat orang tua kita memarahi kita karena kita pulang sore, supaya kita dapat berlama-lama bersama di sekolah.
Sering saat hujan turun, kita habiskan waktu di perpustakaan, penuh keceriaan. Tapi tidak saat ini, aku kesepian di sini; di perpustakaan yang juga menjadi saksi kebersamaan kita. Kini aku bermesraan dengan buku-buku perpustakaan sebab tak ada dirimu disini.
Entah mengapa, sketsa-sketsa indah kebersamaan kita terlintas dibenakku? Kucoba membuang jauh-jauh pikiran itu tapi tetap saja muncul. Bahkan teori-teori elastisitas yang kubaca tak mampu meredam pikiran-pikiranku tentangmu. Tak ada manfaatnya bila kuterus mengingat masa lalu itu, masa lalu yang hanya menyakitiku.
Sebulan lebih kau sakiti aku. Menyakiti dengan keputusan yang telah kau pilih. Kau memilih untuk mengakhiri hubungan indah kita. Kuterima keputusanmu itu sebab kupikir perpisahan kita hanya sementara. Kita hanya tak ingin terganggu dalam menghadapi Ujian Nasional.
Tapi ternyata dugaanku salah. Dua minggu setelah hubungan kita berakhir, kau telah miliki seorang kekasih. Seorang sahabat yang kini menggantikan posisiku dihatimu.
Kau tentu tahu jika aku begitu murka padamu. Dimanakah janji setiamu itu? Dimana letak perasaanmu? Kau jahat! Berhari-hari aku memusuhimu juga kekasih barumu itu kumusuhi. Berkali-kali kau mencoba mendekatiku. Berkali-kali kau meminta maaf padaku juga penjelasan yang begitu penting. Tentu, kekasihmu juga melakukan hal yang sama denganmu. Ia juga meminta maaf padaku, tak bermaksud merebutmu dariku. Tapi memang inilah takdir kita. Takdir yang harus kujalani. Penjelasanmu itu selalu menghantuiku.

Saturday, 17 March 2012

Kutatap tajam matanya. Lelaki berusia enam puluh dua tahun yang duduk dihadapanku adalah sosok atasan dan telah kuanggap sebagai ayahku. Kami sedang berseteru. Bermula dari artikel yang kutulis dan kuajukan padanya tiga minggu lalu. Dia menolak tulisanku tanpa memberikan sebab-musababnya.
"Saya tidak akan meloloskan tulisanmu!" Lelaki itu tetap pada pendiriannya.
"Saya akan tetap menerbitkan tulisan ini! Kasus korupsi ini harus kita selesaikan, Pak!" Ketusku tak mau mengalah.
Kuhela nafas panjang. Perseteruan ini takkan selesai tanpa kepala dingin atau ada salah satu diantara kami yang mengalah. Kami sama-sama keras kepala, sudah pasti diantara kami tak ada yang mau mengalah. Kulangkahkan kaki meninggalkan ruangan kerjanya.
“Ajeng, saya mohon jangan lakukan hal itu! Kau tak mengerti apa yang sedang terjadi!” Dia melarangku dan aku tak peduli itu.
Kuambil sebuah kamera di laci meja kerjaku. Kamera yang selalu menemani hari-hariku sebagai Reporter. Kumulai membuka folder foto-foto. Kucermati satu per satu foto pada folder khusus. Folder khusus ini berisi bukti-bukti korupsi yang kutuliskan dan juga telah kuajukan pada Pak Sofyan; atasanku. Entah mengapa dia tak mengijinkan untuk menerbitkan tulisanku ini? Padahal aku telah miliki bukti kuat.
Mataku terperanjat saat melihat foto urutan ke-93, meski masih dengan kasus dan model yang sama. Anehnya, aku tak pernah mengabadikan kejadian yang terekam pada foto ini.

Saturday, 30 April 2011

Kucermati foto lusuh kita berdua, satu-satunya foto yang kupunya. Entah, tak kuhitung berapa lamanya kupandangi wajahmu ini. Foto ini tak mampu mengurangi kerinduanku padamu, Bunda. Langit terbentang diatas pun tentu tahu seberapa besar kerinduanku ini. Tak mampu lagi kupendam kerinduanku ini, Bunda.
Bersama bintang, kuteteskan air mata kerinduan ini.
Bersama angin, kupejamkan mata. Terlintas beberapa sketsa-sketsa indah kita berdua. Wajahmu, candamu, tawamu, keceriaanmu, juga nasihat-nasihatmu. Aku merindukan semua tentangmu, Bunda.
Timika-Tangerang, itulah jarak yang memisahkan kita. Entah berapa mil jauhnya, tak sanggup tuk kuukur. Sejauh jarak antara kita, sejauh itu pula aku merindukanmu, Bunda. Raga kita memang terpisah tapi tidak dengan hati kita, selalu dekat.
Bersama nafas, kuingat kala kau mengantarkan kepergianku di Bandara Soekarno-Hatta. Di sana, di tempat perpisahan itu kau tuturkan kata-kata nan indah. Kau tahu? Sampai detik ini kata-kata yang telah kau ucapkan itu masih sangat membekas dibenak dan juga kalbuku. Kau berikan semangat tukku. Kau tegarkan aku saat aku menangisi perpisahan ini, Bunda.
“Tegarlah, Nak! Jangan kau tangisi perpisahan ini. Kita tidak berpisah untuk selama-lamanya, kan? Kita pasti akan bersama lagi. Janganlah kau bersedih, kau ini laki-laki, putra kebanggaan Bunda. Mungkin sesuatu yang membuat kita menangis dan bersedih pada saat ini adalah sesuatu yang justru kelak akan membuat kita tersenyum bahagia.” Entah, kau kutip darimana kata bijak itu

About Me

Hai Teman...

Blog ini dikembangkan oleh Angger Minerva. Seorang yang hobi menulis, namun beberapa tahun terakhir sudah tidak aktif lagi menulis. Dan kini, ingin kembali menulis terutama di blog ini.

Berencana mengembangkan blog ini untuk berbagi hal-hal yang diketahuinya, hal-hal yang ada dipikirannya, juga hal-hal seputar ilmu komputer. Btw, saat ini dia sedang melanjutkan studi di Magister Ilmu Komputer di Universitas Swasta di Jakarta. Jika teman-teman menemukan kekeliruan, jangan sungkan untuk mengoreksinya.

Akhir kalimat, salam kenal, salam bahagia, salam ceria.

-A.M.-

Popular Posts

Blog Archive